Posted by: aulia rachman | June 11, 2011

Antara Bintang, Gurita, dan Perubahan: Sebuah Harapan!

Satu pertanyaan gua tentang bintang yang belum gua temuin jawabnya hingga kini adalah: kenapa rasi bintang selalu berada di tempat yang sama sepanjang tahun? Padahal kita semua tahu bahwa bintang adalah bagian dari galaksi yang juga berotasi dan berevolusi layaknya matahari yang kadang berada di selatan dan kadang berada di utara. Apakah ada pengecualian untuk rasi bintang agar mereka tak terpengaruh rotasi dan revolusi? Atau mungkin udah takdir bagi rasi bintang tuk tetap berada di sana dan jadi pedoman bagi mereka yang tersesat di gelap malam.

 

Kadang gua berfikir, asik ya jadi rasi bintang. Rasi bintang bagi gua ibarat simbol keteguhan memegang prinsip dari liarnya kehidupan. Rasi bintang tetap berdiam di tempatnya dan memilih menjadikan sinarnya sebagai penunjuk arah. Bagi mereka yang tersesat di kegelapan malam, rasi bintang memberikan secercah harapan bahwa akan ada akhir dari ketersesatan mereka.

Kehilangan figur pemimpin yang memiliki sinar tuk memberikan harapan bagi anak buahnya akan masa depan yang lebih baik membuat gerakan organisasi ibarat gurita yang memakai sepatu roda, banyak gerakan, tapi kita tak pernah tahu gerakannya akan ke kanan, ke kiri, ke depan, atau ke belakang. Lebih parahnya, banyaknya gerakan ini tidak membuat Si Gurita bergerak maju, Si Gurita hanya bergerak di tempat.

Bagi mereka yang terjebak dalam gerakan gurita ini, keadaan ini hanya melahirkan pragmatisme dan apatisme. Menyedihkan melihat mereka memilih tuk membunuh potensi yang ada di diri mereka dan larut dalam gerakan gurita. Mereka bergerak hanya sebatas menjalankan rutinitas. Tidak ada ‘jiwa’ dari gerakan yang mereka lakukan. Trus kalo gini, apa bedanya kita sebagai manusia dengan robot?

Gua percaya bahwa tidak ada perubahan yang terjadi seketika. Dalam sejarah, revolusi tidak terjadi berkali-kali. Perubahan yang instan hanya akan melahirkan bentuk yang prematur. Gua juga percaya bahwa selalu akan ada resistensi terhadap perubahan. Mungkin sudah bawaan dari orok bahwa manusia malas tuk sejenak keluar dari zona nyamannya dan mencoba tuk melihat dunia lain yang ada di luar sana. Tapi, gua juga percaya bahwa hanya ada dua jenis manusia di bumi ini: manusia yang baik, dan munusia yang akan menjadi baik. Sebenarnya pengalaman yang baru aja gua alamin belom lama ini nunjukin bahwa kepercayaan gua akan dua jenis sifat manusia itu adalah suatu kenaifan. Tapi gua mencoba tuk tetap percaya pada sisi baik yang dimiliki tiap manusia daripada menyerah pada stagnasi.

Kadang keangkuhan kita akan nama besar organisasi membuat kita terlena dan lupa bahwa telah lama kita berjalan di jalur yang salah. Keangkuhan yang membuat kita lupa akan hari-hari penuh keringat ketika di kampus dulu. Keangkuhan yang membuat kita memilih tuk membenarkan yang biasa, bukan membiasakan yang benar.

Beberapa teman udah mulai berdiri dan bergandengan tangan membuat barisan yang mencoba percaya bahwa keberadan kita di organisasi ini bukanlah dengan tanpa tujuan. Keberadaan kita harusnya bisa memberikan arti lebih buat kebaikan organisasi. Buat teman-teman yang mau bergabung, selalu ada tempat di barisan buat kalian. Hentikan keluh kesah kita yang mengutuk keberadaan kita disini. Percayalah kalo kita adalah generasi yang dititipkan di sini untuk memancarkan manfaat bagi organisasi dan negeri ini, karena sebaik-baik manusia adalah mereka yang bermanfaat untuk manusia lain. Ketika barisan telah menyatu, saat itulah figur pemimpin yang memiliki sifat seperti rasi bintang dinanti.

Posted by: aulia rachman | October 18, 2010

Ternate: Sebuah Catatan Pinggir



Gua percaya mereka yang bisa menertawai moment-moment dalam hidupnya adalah mereka yang mampu melihat banyak sisi-sisi tersembunyi di dunia yang makin sumpek dengan segala tetek bengeknya. Seperti temen cewe gua yang bisa ngetawain cewe lain yang bela-belain ikut diet ketat hanya untuk mengejar kata seksi dari cowonya, atau seperti petugas bus transjakarta yang ngeledekin gua yang nanyain rute menuju mangga dua namun malah pindah ke jurusan kampung melayu gara-gara ngikutin cewe bercardigan biru Cuma kerena pengen tau tu cewe turun di halte mana, atau seperti gua dan temen-temen yang ngetawain roda hidup yang ngebawa gua berdiam sejenak di kota tua ini.

Hidup memang ga semulus kulit cewe yang selalu diberi lotion mahal nan wangi atau seperti kulit bayi yang selalu diawasi dari gigitan nyamuk oleh ayah-bundanya, tapi seperti kulit abang becak! Hitam legam terbakar matahari, penuh daki dan bau peluh, sebagai bukti usahanya menunjukkan cinta dan kasih sayang kepada istri dan anak-anaknya yang menanti di rumah. Karena itu, gua ga harus kaget kalo usaha yang gua lakuin ga selalu ngebawa hasil sesuai dengan skenario yang ada di benak gua. Karena klo semua skenario gua sukses, gua harusnya sekarang ada di stasiun luar angkasa milik NASA sambil meneliti bintang-bintang dan bukan berada di kota yang tidak pernah terbangun dari tidur panjangnya ini, kota yang terbutakan oleh kemegahan masa lalu. Tapi di kota ini gua belajar banyak hal, termasuk belajar gagal. Jadi sepatutnya kota ini mendapat sebuah karangan bunga dari gua.

Ternate memang tertinggal dari peradaban. Disaat orang-orang membicarakan teknologi nirkabel dan rencana mewujudkan komputer hologram yang akan semakin memudarkan batas ruang dan waktu, kota ini masih berkutat dengan masalah sumber listrik. Jangan tanyakan ada berapa gedung pencakar langit yang menjulang disini, tapi tanyakan berapa ruas jalan yang layak dijadikan medan offroad. Jangan tanyakan mengapa kemampuan sdm di provinsi ini masih jauh dari harapan, tapi tanyakan berapa banyak perguruan tinggi dan tenaga pengajar yang tersedia.

Tak seperti Ibukota yang kejam memenuhi paru-paru gua dengan asap hitamnya, kota ini memanjakan gua sejak gua membuka mata di pagi hari. Terbangun dari tidur dengan sentuhan lembut embun Gamalama, diiringi deburan kecil ombak pantai swering, dan disambut mentari yang malu-malu mengintip dari balik punggung Tidore yang menjulang. Tak ada gading yang tak retak, tak ada kota yang sempurna, dan sebaliknya tidak ada kota yang benar-benar buruk. Dibalik segala keterbatasannya, kota ini menawarkan suasana alam yang akrab. Keindahan dan ketenangan yang rela ditebus jutaan rupiah oleh kaum-kaum borjuis ibukota tiap akhir pekan.

Dilatari gedung yang masih sangat muda, kota ini mengenalkan gua dengan keluarga baru yang memiliki senyum semanis mawar merah yang merekah di musim semi. Keluarga baru yang mendekap gua sehangat pelukan ibu yang mampu menenangkan gundah di hati sang anak. Keluarga baru yang mengajarkan gua beragam jenis canda tawa dan mengenalkan gua pada cinta.

Perjalanan ke Desa Bajo –yang bahkan penduduk asli Maluku Utara pun belum tentu tau mengenai keberadaan desa ini– menunjukkanku sisi lain dari kebahagiaan. Anak-anak desa Bajo masih dapat bersenang-senang dan tertawa lepas walau sama sekali tidak mengenal Playstation, Water Boom, dan permainan modern lainnya. Mereka tetap menikmati masa kanak-kanaknya dengan bermain air di laut yang juga menjadi pekarangan rumah mereka, berkejaran dengan bangau-bangau yang mencari makan di pinggir pantai. Senyum-tawa yang hampir tidak dapat ditemui di kota-kota besar dimana gua sering mendenger berita tentang anak yang melawan orang tuanya hanya karena tidak dibelikan handphone keluaran terbaru. Minimnya fasilitas modern di Bajo tidak serta merta menghapus senyum tawa mereka. Satu yang gua kini yakini, kemegahan dunia sama sekali tidak menjamin senyum yang tersungging di bibir putra-putri kita.

Terperangkap di kota ini juga memaksa gua menunda beberapa impian gua. Namun kota ini tak cukup kuat membendung obsesi gua atas mimpi-mimpi gua. Gua ibarat seekor anak anjing yang penuh dengan gairah penasaran yang selalu kegirangan mengibaskan ekornya, berlari, dan melompat hanya karena penasaran dengan seekor kupu-kupu besayap bagai pelangi. Dan kota ini pun membuka sedikit cakrawala warna gua bahwa gua baru akan mengerti arti warna-warna cerah ketika gua pernah melihat warna-warna gelap.

Satu yang gua sadari. Tawa yang dulu berderai ketika divonis untuk meninggalkan gemerlap ibukota dan menuju pulau kecil di timur negri ini adalah tawa gembira yang sepatutnya gua jaga gegap gempitanya.

Posted by: aulia rachman | October 13, 2010

KKN Dalam Sudut Pandang Humanis

 

ilustrasi

gambar di copy dari politikana

 

KKN dipandang sebagai penyakit kronis dan bahkan salah satu diantaranya – korupsi dianggap sebagai extraordinary crime di negeri ini. Banyak studi yang telah dilakukan untuk menemukan jurus jitu dalam menghapus korupsi dari sendi kehidupan masyarakat, walau harus diakui belum satupun ahli yang dapat meramu jurus pamungkas pembasmi korupsi.

Tidak perlu terlalu panjang lebar gua menyadur dan mengutip penjelasan tentang apa itu korupsi, kolusi, dan nepotisme karena gua yakin hampir setiap kita sudah paham apa makna dibalik kata-kata yang telah satu dasawarsa ini begitu sering diperbincangkan tersebut. Pembicaraan mengenai buruknya dampak KKN bagi kehidupan berbangsa dan bernegara sudah tidak menarik untuk disimak. Pertanyaan mendasar yang perlu kita cari jawabannya adalah mengapa KKN dapat tumbuh subur di negeri zamrud khatulistiwa ini hingga deretan perundang-undangan dan aparat penegak hukum yang membuntutinya tidak mampu menghentikan laju pertumbuhan KKN. Mari kita mulai menyingkap jawaban dari pertanyaan tadi dengan menyimak cerita berikut.

Andi baru saja akan memasuki kota Bogor saat tiba-tiba mobil yang dikendarainya mengalami kerusakan. Setelah mencermati kondisi mesin, Andi sadar bahwa ia tidak memiliki cukup keahlian untuk memperbaiki kerusakan tersebut.  Segera Andi mengambil handphone dan menghubungi bengkel langganan kantor untuk meminta dikirimkan seorang montir ke lokasi dimana mobilnya rusak dan meminta agar biaya atas layanan perbaikan ditempat tersebut ditagihkan ke rekening kantor. Singkat cerita, montir yang dikirimkan oleh bengkel berhasil memperbaiki mobil Andi dan ketika akan melanjutkan perjalanan, tidak lupa Andi memberikan selembar uang Rp100.000 kepada montir tersebut.

Di lain tempat, Irvan baru saja terpilih sebagai ketua OSIS SMK Negeri 6 Jakarta. Sambil nongkrong di kantin sekolah, Irvan bercerita kepada teman-teman dekatnya bahwa ia sedang kebingungan mencari sosok yang tepat untuk ditunjuk sebagai Ketua Seksi Kepemudaan dan Olahraga. Irvan menceritakan kepada teman-temannya bahwa ia mencari sosok yang memiliki intergritas dan dapat dipercaya. Saat itu yang terbesit dalam benak Irvan adalah Wiriya, sepupu Irvan, yang mahir dalam beberapa cabang olahraga, pandai bersosialisasi dan tentunya ia telah mengenal sosok Wiriya sejak kecil sehingga ia dapat mempercayai Wiriya. Teman-teman Irvan tidak keberatan ketika Irvan menanyakan apakah Wiriya pantas untuk ditunjuk sebagai Ketua Seksi Kepemudaan dan Olahraga.

Fitrah manusia adalah lemah. Manusia dilahirkan sebagai sosok sosial yang tidak mampu berdiri sendiri. Karena ketidakberdayaannya ini, manusia secara naluriah akan berperilaku untuk mencari perlindungan diri dan akan menghargai perlindungan yang diberikan manusia lain.

Pada cerita di atas, Andi yang tak berdaya memperbaiki kerusakan pada mesin mobilnya merasa sangat terbantu dengan kedatangan sang montir dan menghargai perlindungan yang diberikan sang montir yang diwujudkan dengan pemberian uang walaupun Andi tahu bahwa sang montir telah memiliki jatah gaji dari bengkel atas pekerjaannya. Tips, begitu masyarakat modern menyebut pemberian uang semacam ini. Saya yakin hampir semua kita tidak keberatan atas apa yang dilakukan Andi. Karena nilai kesopanan mengajarkan kita untuk selalu berterima kasih atas pertolongan yang diberikan orang lain.

Apakah temen-temen pada tahu bahwa Tips adalah singkatan dari to increase personal service? Jika kita meng-copy kondisi pada cerita tentang Andi dan mem-paste kondisi tersebut pada kegiatan pembuatan KTP, maka apakah uang yang diamplopkan kepada petugas kelurahan dapat dikatakan sebagai tips? Tentu tidak serta merta semua pihak akan setuju menganggap pemeberian di kelurahan sebagai tips. Salah, jika petugas kelurahan mentarifkan proses pembuatan KTP. Tapi nyatanya, tidak semua petugas kelurahan berbuat demikian. Uang yang mereka terima lebih kepada ucapan terima kasih masyarakat karena petugas tersebut dengan gajinya yang terbatas telah mau bersusah-susah membantu masyarakat memproses pembuatan KTP ke Kecamatan. Pemberian uang tersebut dimaksudkan agar petugas kelurahan bersemangat memproses pembuatan KTP atau istilahnya to increase personal service –tips.

Bagaimana dengan Irvan? Apakah keputusannya menunjuk Wiriya sebagai ketua seksi di organisasi yang dipimpinnya dapat dikatakan sebagai wujud perbuatan nepotisme? Keputusan Irvan menunjuk Wiriya didasari pertimbangan yang sangat humanis. Irvan dengan ketidakberdayaannya memimpin suatu organisasi sendirian membutuhkan sosok yang dapat dipercaya untuk membantunya. Rasa percaya tidak didapat dalam waktu sekejap. Perlu waktu untuk mengenal karakter seseorang. Tidak aneh apabila kita kemudian lebih mempercayai perkataan kelurga sendiri dibandingkan perkataan orang lain. Pakar-pakar biologi telah mengisyaratkan bahwa tendensi terhadap nepotisme adalah berdasarkan naluri, sebagai salah satu bentuk dari kepercayaan terhadap saudara. Kepercayaan, inilah yang juga kemudian mendasari lahirnya sistem kerajaan dimana kekuasaan diwariskan berdsarkan garis keturunan darah.

Budaya (culture) berdasarkan wikipedia.org didefinisikan sebagai suatu kesatuan pola dari pengetahuan manusia, keyakinan, dan kebiasaan yang lahir dari kemampuan berfikir dan proses pembelajaran sosial. Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa budaya tersusun dari nilai-nilai humanis yang terangkum dalam norma kesopanan serta adat kebiasaan.

Cerita di atas merupakan contoh kecil perbuatan yang dapat menyuburkan budaya KKN. Ketika pemberian tips kepada kepada montir, sopir taksi, room boy dianggap sebagai hal yang wajar, maka tidaklah aneh jika kemudian pemberian tips kepada aparatur pemerintah akan dianggap sebagai suatu kewajaran juga. Demikian juga halnya dengan nepotisme. Apakah akan dianggap melakukan nepotisme jika seorang pemimpin menunjuk saudaranya yang memiliki kemampuan untuk menduduki suatu jabatan tertentu? Merupakan sangat humanis bagi seorang pemimpin untuk mencari sosok yang dapat dipercaya namun tetap memiliki kapabilitas.

Gua sama sekali tidak bermaksud melakukan pembenaran atas KKN melalui tulisan ini. Hanya saja, melalui goresan sederhana ini gw ingin menunjukkan bahwa sebagian tindakan ygna dianggap perbuatan korupsi, kolusi, dan nepotisme kadang hadir bukan karena ada niat untuk berbuat curang, namun adalah reaksi spontan manusia akan sisi humanis-nya.

Posted by: aulia rachman | May 5, 2010

Bangsa yang Melangkah Mundur

Berita mundurnya Sri Mulyani Indrawati sebagai menteri keuangan RI yang kemudian ditunjuk oleh Presiden Bank Dunia, Robert Zoellick, sebagai Managing Director Bank Dunia tengah menjadi perbincangan hangat saat ini.

Bermula dari Kasus Bail Out Bank Century yang berujung pada rekomendasi DPR yang meminta agar Sri Mulyani mundur dari jabatannya sebagai menteri keuangan. Entah mungkin karena lelah dengan hiruk pikuk perpolitikan anak ingusan di gedung dewan sana atau merasa tersakiti karena perjuangannya selama ini malah tidak dihargai oleh bangsanya sendiri yang telah ia perjuangkan hingga akhirnya Sri Mulyani menerima tawaran dari Bank Dunia untuk menduduki jabatan sebagai Managing Director setelah mendapat restu dari Presiden RI.

Prihatin. Itulah yang pertama kali terbesit di otak gw begitu denger berita ini. Dulu, saat industri dirgantara tanah air tengah naik daun di bawah komando BJ Habibie. Eh, bangsa kita yang tercinta ini melalui suara2 yang ngakunya wakil rakyat dan mereka yang ngakunya sebagai agent of change malah tidak menghargai kerja keras nya hingga akhirnya Habibie memilih kembali berkarir di negri Bavaria. Padahal kecerdasan Habibie telah diakui di dunia perdirgantaraan dengan menemukan Teori, Faktor, dan Metode Habibie (cek aja dim bah gugel kalo pengen tau lengkapnya). Hasil dari jerih payah wakil rakyat saat itu adalah stagnasi industri dirgantara tanah air.

Kembali ke isu Sri Mulyani, wanita kelahiran lampung ini terkenal dengan kebijakan2nya yang berani seperti ketika ia memutuskan agar Indonesia tidak lagi berhubungan dengan IMF dan ketika ia memutuskan untuk membubarkan CGI. Tidak hanya itu, prestasi lain yang berhasil diraihnya adalah penurunan nilai utang Indonesia yang signifikan dan stabilitas nilai rupiah atas dolar amerika. Tidak hanya didalam negri, media keuangan internasional pun mendaulat Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan Terbaik dan masuk dalam jajaran wanita paling berpengaruh di dunia.

Kisah kelam itu kembali terulang. Nyanyian2 politisi senayan dan orasi jalanan mahasiswa membawa kepada situasi dimana akhirnya Sri Mulyani mundur sebagai menteri keuangan dan memilih bergabung dengan Bank Dunia. Sekali lagi aset berharga bangsa dibajak pihak asing. Isu mundurnya Sri Mulyani ini bahkan memaksa IHSG terkoreksi negatif hingga 100 poin lebih. Entah kapan bangsa ini bisa belajar untuk menghargai kecerdsan putra/putrinya sendiri. Padahal sejak kecil bangsa ini dididik dengan slogan “bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya”.

BJ Habibie dan Sri Mulyani adalah pahlawan bangsa dibidangnya masing-masing. Jika potensi alam bangsa ini tidak dapat kita optimalkan, kemudian potensi SDMnya pun kita sia-siakan, maka bangsa ini hanya akan menjadi bangsa yang mencatatkan dirinya dalam lembar sejarah sebagai bangsa yang melangkah mundur.

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.