Satu pertanyaan gua tentang bintang yang belum gua temuin jawabnya hingga kini adalah: kenapa rasi bintang selalu berada di tempat yang sama sepanjang tahun? Padahal kita semua tahu bahwa bintang adalah bagian dari galaksi yang juga berotasi dan berevolusi layaknya matahari yang kadang berada di selatan dan kadang berada di utara. Apakah ada pengecualian untuk rasi bintang agar mereka tak terpengaruh rotasi dan revolusi? Atau mungkin udah takdir bagi rasi bintang tuk tetap berada di sana dan jadi pedoman bagi mereka yang tersesat di gelap malam.
Kadang gua berfikir, asik ya jadi rasi bintang. Rasi bintang bagi gua ibarat simbol keteguhan memegang prinsip dari liarnya kehidupan. Rasi bintang tetap berdiam di tempatnya dan memilih menjadikan sinarnya sebagai penunjuk arah. Bagi mereka yang tersesat di kegelapan malam, rasi bintang memberikan secercah harapan bahwa akan ada akhir dari ketersesatan mereka.
Kehilangan figur pemimpin yang memiliki sinar tuk memberikan harapan bagi anak buahnya akan masa depan yang lebih baik membuat gerakan organisasi ibarat gurita yang memakai sepatu roda, banyak gerakan, tapi kita tak pernah tahu gerakannya akan ke kanan, ke kiri, ke depan, atau ke belakang. Lebih parahnya, banyaknya gerakan ini tidak membuat Si Gurita bergerak maju, Si Gurita hanya bergerak di tempat.
Bagi mereka yang terjebak dalam gerakan gurita ini, keadaan ini hanya melahirkan pragmatisme dan apatisme. Menyedihkan melihat mereka memilih tuk membunuh potensi yang ada di diri mereka dan larut dalam gerakan gurita. Mereka bergerak hanya sebatas menjalankan rutinitas. Tidak ada ‘jiwa’ dari gerakan yang mereka lakukan. Trus kalo gini, apa bedanya kita sebagai manusia dengan robot?
Gua percaya bahwa tidak ada perubahan yang terjadi seketika. Dalam sejarah, revolusi tidak terjadi berkali-kali. Perubahan yang instan hanya akan melahirkan bentuk yang prematur. Gua juga percaya bahwa selalu akan ada resistensi terhadap perubahan. Mungkin sudah bawaan dari orok bahwa manusia malas tuk sejenak keluar dari zona nyamannya dan mencoba tuk melihat dunia lain yang ada di luar sana. Tapi, gua juga percaya bahwa hanya ada dua jenis manusia di bumi ini: manusia yang baik, dan munusia yang akan menjadi baik. Sebenarnya pengalaman yang baru aja gua alamin belom lama ini nunjukin bahwa kepercayaan gua akan dua jenis sifat manusia itu adalah suatu kenaifan. Tapi gua mencoba tuk tetap percaya pada sisi baik yang dimiliki tiap manusia daripada menyerah pada stagnasi.
Kadang keangkuhan kita akan nama besar organisasi membuat kita terlena dan lupa bahwa telah lama kita berjalan di jalur yang salah. Keangkuhan yang membuat kita lupa akan hari-hari penuh keringat ketika di kampus dulu. Keangkuhan yang membuat kita memilih tuk membenarkan yang biasa, bukan membiasakan yang benar.
Beberapa teman udah mulai berdiri dan bergandengan tangan membuat barisan yang mencoba percaya bahwa keberadan kita di organisasi ini bukanlah dengan tanpa tujuan. Keberadaan kita harusnya bisa memberikan arti lebih buat kebaikan organisasi. Buat teman-teman yang mau bergabung, selalu ada tempat di barisan buat kalian. Hentikan keluh kesah kita yang mengutuk keberadaan kita disini. Percayalah kalo kita adalah generasi yang dititipkan di sini untuk memancarkan manfaat bagi organisasi dan negeri ini, karena sebaik-baik manusia adalah mereka yang bermanfaat untuk manusia lain. Ketika barisan telah menyatu, saat itulah figur pemimpin yang memiliki sifat seperti rasi bintang dinanti.



Recent Comments