
Perubahan yang terjadi pada Media dari sekedar wadah penampung dan penyalur informasi menjadi alat bisnis telah banyak mempengaruhi alur pemberitaan mereka. Media Cetak sebagai alat bisnis tidak dapat dipisahkan dengan tuntutan permintaan pasar guna memenangkan persaingan dan memperoleh profit yang besar.
Untuk memenuhi tuntutan persaingan bisnis ini, masing-masing media membuat strategi yang hampir sama yaitu menjual berita heboh yang menggemparkan. Anggapan bahwa ‘bad news is good news’ mulai marak berkembang pada media dan seakan dijadikan pedoman dalam tiap pemberitaan mereka. Para kuli tinta kemudian didominasi dengan anggapan bahwa pasar lebih peka terhadap pemberitaan mengenai pejabat yang melakukan korupsi daripada berita mengenai pencapaian-pencapaian baik yang dilakukan oleh seorang pejabat. Pasar dianggap lebih bergairah bila media memberitakan mengenai kenakalan remaja daripada prestasi remaja yang telah mengharumkan nama bangsa di berbagai event internasional. Lihat saja, setiap stasiun tv nasional kini memiliki program berita kriminal yang isinya hanya mengumbar kekejian dan sisi binatang dari manusia. Entah mengapa, program-program tersebut memiliki rating yang cukup baik.
***
Kamu adalah apa yang kamu lihat, kamu dengar, dan kamu ucapkan.
Ungkapan di atas mengibaratkan manusia sebperti teko. Apa yang diisikan didalamnya akan sama dengan apa yang akan dituangkan olehnya.
Tidak ada bukti empiris yang mengaitkan banyaknya permerkosaan oleh remaja, kekerasan pada remaja, atau bahkan kasus mutilasi yang banyak terjadi dewasa ini terkait langsung dengan maraknya pemberitaan serupa di berbagai media dengan pengupasan berita yang benar-benar vulgar. Namun ungkapan di atas dapat dijadikan dalil dalam mengungkap hubungan langsung keduanya.
***
Hal Urban, seorang penulis dan dosen di University of San Fransisco, menungkapkan bahwa adalah suatu hal yang menyenangkan bila media lebih sering memberitakan hal-hal yang baik sehingga menegaskan kembali keyakinan kita tentang fitrah manusia bahwa ada ribuan orang baik yang melakukan kebaikan diluar sana. Earl Warnen, Chief Justice pada US Supreme Court, mengatakan bahwa kita membaca headline dari surat kabar untuk melihat kegagalan orang lain.
Dan aku, berani berpendapat bahwa kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh gaya media setempat dalam menyampaiakan berita. Kebebasan pers bukan berarti tidak berbatas. Sejak kecil bangsa ini telah diajarkan bahwa kebebasan yang kita miliki adalah kebebasan yang bertanggung jawab, jangan sampai atas nama kebebasan yang kita miliki kita merusak kebebasan orang lain bahkan lebih parah lagi kita menjerumuskan generasi bangsa ini.
Aku jadi teringat lirik lagu American Idiot-nya Green Day. Sebuah negara yang diprovokasi dan dikendalikan oleh media yang hanya menimbulkan kekacauan dan paranoid pada masyarakatnya.
barangkali mulut wartawan perlu disumpal dengan nasi goreng biar diam.
lalu dia bakal nulis tentang enaknya nasi goreng buatan Pak Min.
By: mann on December 16, 2008
at 10:50 am