Posted by: aulia rachman | April 17, 2009

Rakyat dan Demokrasi

pigs and democracy2 (gambar:islamhariini.files.wordpress.com)

pigs and democracy2 (gambar:islamhariini.files.wordpress.com)

“Adalah wajar di dalam demokrasi ada yang menang dan ada yang kalah.”
Hillary Clinton, Menlu AS.

Bagi kebanyakan orang, pernyataan ini adalah suatu gambaran indah tentang toleransi dan sikap menerima di dalam demokrasi. Tapi bagi saya, dan mungkin juga bagi segelintir lainnya, pernyataan tersebut adalah sebuah pengkhianatan terhadap demokrasi itu sendiri.


Secara bahasa, demokrasi berarti kedaulatan rakyat. Di Indonesia, kita mengenal demokrasi sebagai ‘dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat’. Hanya ada satu subjek dan satu objek dalam istilah tersebut, yaitu rakyat. Dari sudut ini saja kita sudah dapat menyimpulkan bahwa tidak ada istilah menang ataupun kalah dalam demokrasi karena hulu maupun hilir dari demokrasi adalah rakyat.


Kalau boleh saya katakan, istilah menang dan kalah dalam demokrasi hanya layak digunakan oleh mereka yang menggunakan demokrasi sebagai alat pemuas syahwat belaka. Mereka mengaku bertarung atas nama rakyat namun tiap keberhasilan yang mereka capai mereka klaim sebagai keberhasilan golongan atau partai. Ibarat sebuah lakon, rakyat hanya dijadikan penonton aktor-aktor politisi beradu akting dipentas yang mereka sebut demokrasi. Mereka yang memiliki kualitas akting yang mumpuni kemudian berhak memperoleh award (baca: menang dalam pemilu). Rakyat dikelabui.


Bagaimana agar kemudian ‘dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat’ dapat diimplementasikan dengan baik? Jawabannya jelas, rakyat harus memiliki keterlibatan yang lebih luas dalam tiap pengambilan kebijakan negara. Untuk itu, sistem demokrasi representatif yang dipakai saat ini harus diganti. Kedaulatan tidak bisa direpresentasikan karena tidak seorangpun bisa benar-benar merepresentasikan orang lain.


Untuk mencapai kedaulatan rakyat (baca: demokrasi), keterlibatan tiap individu haruslah dijamin. Apabila ada individu yang tidak setuju dengan sebuah keputusan, maka adalah kewajiban bagi semuanya untuk mencari solusinya.


Bagaimana dengan keadaan demokrasi di Indonesia saat ini? Disaat pro-kontra Golput menjelang pemilu merebak, masih pantaskah sistem ini dianggap sebagai pesta demokrasi? Atau lebih jauh lagi, adakah kita beranggapan sistem demokrasi Indonesia saat ini masih relevan untuk diaplikasikan?


Di era reformasi saat ini, semua hal dikaitkan dengan kebebasan. Apakah demokrasi representatif telah mengakomodasi kebebasan tiap-tiap individu? Jawabannya jelas tidak. Munculnya masyarakat yang memilih golput adalah wujud dari ketidakbebasan itu karena dalam pemilu rakyat dibatasi kebebasan menyalurkan aspirasinya hanya melalui partai-partai politik yang ikut pemilu. Perlu dicamkan, kebebasan bukan kekuasaan untuk memilih satu diantara beberapa pilihan yang telah disediakan, tapi adalah kemampuan untuk menentukan sendiri pilihan yang sesuai untuknya.


Oleh karena itu, perlu dirancang sebuah sistem dimana semua elemen mayarakat terangkul sehingga tidak perlu lagi ada yang golput. Disinilah demokrasi partisipatoris selayaknya berperan.

Advertisement

Responses

  1. wie, bagusnya artikel kayak gini dimuat di opini civitas. hehehe… enjoy kan di ternate? hmm titip blogroll donk
    amdefi.wordpress.com

  2. sepakat bang aul…
    memang makna demokrasi itu sudah mulai kabur, demokrasi dianggap sebagai alat untuk menuntut hak,tapi di sisi lain melupakan kewajiban..

    yah..menurut gw, negara ini yang memang belum siap berdemokrasi…

  3. yah demokrasi kan yang penting duit…hidup duit
    no duit no makan


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.