Posted by: aulia rachman | May 12, 2009

Kisah Plato dan Gua

701platoAda sebuah gua, di dalamnya terapat beberapa orang narapidana. Mereka semua dirantai satu sama lain dengan posisi menghadap dinding gua. Mereka tidak diizinkan berbalik dan melihat ke belakang. Mereka menghabiskan waktunya hanya dengan menatapi dinging gua.

Pada suatu hari, salah satu dari mereka –sebutlah Kliwon– dilepaskan dan diizinkan untuk berbalik dan melihat sekelilingnya.

Semula Kliwon merasa silau melihat cahaya terang. Hal ini sangat mengganggu penglihatannya. Setelah beberapa lama, matanya mulai terbiasa menatap cahaya.

Ketika matanya sudah terbiasa dengan cahaya, Kliwon mulai dapat melihat bahwa di atas dan di belakang para narapidana terdapat api. Cahaya api itulah yang pertama kali menyilaukan matanya. Dan di antara api dan narapidana terdapat sebuah jalan.

Jalan tersebut sering dilewati oleh petugas penjara. Kliwon dapat melihatnya ketika petugas melewati sepanjang jalan tersebut sambil membawa benda yang bayangannya terpantul ke dinding gua yang ada dihadapan narapidana.

Kliwon belum pernah melihat benda yang sebenarnya sebelum itu. Apa yang dia lihat ketika masih terpidanan hanyalah bayangan benda tersebut yang memantul ke dinding. Akhirnya, Kliwon mengambil kesimpulan bahwa bayangan itu bukanlah hal yang sebenarnya. Kliwon salah kalau menganggap bahwa yang ia lihat di dinding gua adalah realitas yang sebenarnya.

Sekarang Kliwon menyadari bahwa betapa bodoh dirinya dan narapidana yang lain itu. Kini dia menyadari bahwa apa yang selama ini dianggap sebagai dunia nyata olehnya hanyalah parade dari sebuah bayangan. Ia menyadari bahwa dunia nyata yang sesungguhnya adalah sesuatu yang tidak terjangkau olehnya.

Beberapa saat kemudian, sejumlah petugas penjara membawa Kliwon keluar dari gua dan melihat sinar matahari. Lagi-lagi, cahaya terang menyilaukan matanya, tetapi lambat laun ia dapat mengatasinya. Akhirnya Kliwon mengenal matahari.

Kliwon berubah menjadi orang baik dan dia merasa sangat bersalah terhadap teman-temannya yang masih terpidana di dalam gua. Kliwon memutuskan untuk kembali ke gua dan menceritakan apa yang telah ia lihat. Dia yakin bahwa mereka pasti akan tertarik untuk mengetahui apa yang dia alami dalam petualangannya mengenal dunia nyata.

Namun, ketika Kliwon berada di dasar gua, matanya tidak lagi terbiasa dengan kegelapan. Dia sering tersandung dan menabrak benda lain. Para narapidana menganggap bahwa perjalanan Kliwon telah membuat dirinya buta.

Selanjutnya, keadaan menjadi lebih buruk. Ketika Kliwon mulai menjelaskan kepada narapidana itu bahwa dunia nyata itu benar-benar ada diluar sana dan yang selama ini mereka lihat hanyalah bayangan semata, mereka malah tidak mau mendengarkannya. Mereka lebih asyik menikmati bayangan yang ada dihadapan mereka. Mereka meminta supaya Kliwon diam. Tingkah mereka seperti orang kesetanan layaknya orang yang menonton program favoritnya di telivisi lalu diganggu orang.

Kliwon tidak mau menyerah. Dia ingin menolong mereka. Karena itu, ia tetap bersikukuh untuk menjelaskan kepada mereka tentang adanya dunia yang tidak mereka ketahui. Akhirnya, para narapidana itu benar-benar marah dan membentak Kliwon. “Pergi sana!” bentak mereka. “Berhenti mengganggu kami dengan bualanmu! Kami dapat mengetahui sesuatu yang baik seperti apa adanya—dasar kamu buta!”

Melihat Kliwon tetap ngotot, akhirnya mereka melempari Kliwon dengan batu. Mereka menyuruh Kliwon untuk menjauh. Selanjutnya, mereka menikmati kebiasaan asyiknya memandangi bayangan. Mereka tidak pernah mengetahui kebenaran.

Advertisement

Responses

  1. kadang kita menganggap bayangan sebagai realita……


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.