Posted by: aulia rachman | October 18, 2010

Ternate: Sebuah Catatan Pinggir



Gua percaya mereka yang bisa menertawai moment-moment dalam hidupnya adalah mereka yang mampu melihat banyak sisi-sisi tersembunyi di dunia yang makin sumpek dengan segala tetek bengeknya. Seperti temen cewe gua yang bisa ngetawain cewe lain yang bela-belain ikut diet ketat hanya untuk mengejar kata seksi dari cowonya, atau seperti petugas bus transjakarta yang ngeledekin gua yang nanyain rute menuju mangga dua namun malah pindah ke jurusan kampung melayu gara-gara ngikutin cewe bercardigan biru Cuma kerena pengen tau tu cewe turun di halte mana, atau seperti gua dan temen-temen yang ngetawain roda hidup yang ngebawa gua berdiam sejenak di kota tua ini.

Hidup memang ga semulus kulit cewe yang selalu diberi lotion mahal nan wangi atau seperti kulit bayi yang selalu diawasi dari gigitan nyamuk oleh ayah-bundanya, tapi seperti kulit abang becak! Hitam legam terbakar matahari, penuh daki dan bau peluh, sebagai bukti usahanya menunjukkan cinta dan kasih sayang kepada istri dan anak-anaknya yang menanti di rumah. Karena itu, gua ga harus kaget kalo usaha yang gua lakuin ga selalu ngebawa hasil sesuai dengan skenario yang ada di benak gua. Karena klo semua skenario gua sukses, gua harusnya sekarang ada di stasiun luar angkasa milik NASA sambil meneliti bintang-bintang dan bukan berada di kota yang tidak pernah terbangun dari tidur panjangnya ini, kota yang terbutakan oleh kemegahan masa lalu. Tapi di kota ini gua belajar banyak hal, termasuk belajar gagal. Jadi sepatutnya kota ini mendapat sebuah karangan bunga dari gua.

Ternate memang tertinggal dari peradaban. Disaat orang-orang membicarakan teknologi nirkabel dan rencana mewujudkan komputer hologram yang akan semakin memudarkan batas ruang dan waktu, kota ini masih berkutat dengan masalah sumber listrik. Jangan tanyakan ada berapa gedung pencakar langit yang menjulang disini, tapi tanyakan berapa ruas jalan yang layak dijadikan medan offroad. Jangan tanyakan mengapa kemampuan sdm di provinsi ini masih jauh dari harapan, tapi tanyakan berapa banyak perguruan tinggi dan tenaga pengajar yang tersedia.

Tak seperti Ibukota yang kejam memenuhi paru-paru gua dengan asap hitamnya, kota ini memanjakan gua sejak gua membuka mata di pagi hari. Terbangun dari tidur dengan sentuhan lembut embun Gamalama, diiringi deburan kecil ombak pantai swering, dan disambut mentari yang malu-malu mengintip dari balik punggung Tidore yang menjulang. Tak ada gading yang tak retak, tak ada kota yang sempurna, dan sebaliknya tidak ada kota yang benar-benar buruk. Dibalik segala keterbatasannya, kota ini menawarkan suasana alam yang akrab. Keindahan dan ketenangan yang rela ditebus jutaan rupiah oleh kaum-kaum borjuis ibukota tiap akhir pekan.

Dilatari gedung yang masih sangat muda, kota ini mengenalkan gua dengan keluarga baru yang memiliki senyum semanis mawar merah yang merekah di musim semi. Keluarga baru yang mendekap gua sehangat pelukan ibu yang mampu menenangkan gundah di hati sang anak. Keluarga baru yang mengajarkan gua beragam jenis canda tawa dan mengenalkan gua pada cinta.

Perjalanan ke Desa Bajo –yang bahkan penduduk asli Maluku Utara pun belum tentu tau mengenai keberadaan desa ini– menunjukkanku sisi lain dari kebahagiaan. Anak-anak desa Bajo masih dapat bersenang-senang dan tertawa lepas walau sama sekali tidak mengenal Playstation, Water Boom, dan permainan modern lainnya. Mereka tetap menikmati masa kanak-kanaknya dengan bermain air di laut yang juga menjadi pekarangan rumah mereka, berkejaran dengan bangau-bangau yang mencari makan di pinggir pantai. Senyum-tawa yang hampir tidak dapat ditemui di kota-kota besar dimana gua sering mendenger berita tentang anak yang melawan orang tuanya hanya karena tidak dibelikan handphone keluaran terbaru. Minimnya fasilitas modern di Bajo tidak serta merta menghapus senyum tawa mereka. Satu yang gua kini yakini, kemegahan dunia sama sekali tidak menjamin senyum yang tersungging di bibir putra-putri kita.

Terperangkap di kota ini juga memaksa gua menunda beberapa impian gua. Namun kota ini tak cukup kuat membendung obsesi gua atas mimpi-mimpi gua. Gua ibarat seekor anak anjing yang penuh dengan gairah penasaran yang selalu kegirangan mengibaskan ekornya, berlari, dan melompat hanya karena penasaran dengan seekor kupu-kupu besayap bagai pelangi. Dan kota ini pun membuka sedikit cakrawala warna gua bahwa gua baru akan mengerti arti warna-warna cerah ketika gua pernah melihat warna-warna gelap.

Satu yang gua sadari. Tawa yang dulu berderai ketika divonis untuk meninggalkan gemerlap ibukota dan menuju pulau kecil di timur negri ini adalah tawa gembira yang sepatutnya gua jaga gegap gempitanya.


Responses

  1. Ini ane gan, nick Addickted di kaskus, tolong mampir ke blog ane juga ya :) btw, ane jadi pengen coba ke Ternate gan. Belom pernah kesana. Agan orang Maluku ya?

  2. Wahhh tulisanmu keren..bikin ani pengen kesana :) ..

    Applauuusss 4 u ^_^


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.